Pengamen Cilik 5

Ah... Masih 3 jam lagi pikirku. Ya sudah, akan kulanjutkan mengamen....

"Ah, sudah jam 11...!", kataku sambil melihat jam diatas Toilet Umum. "Aku harus cepat-cepat...!", kataku lagi. Aku pun berlari ke arah rumah anak itu. Begitu sampai di rumahnya, anak bernama Fiska itu sedang berdiri di depan gerbang rumahnya. Saat ia mendengar suara langkah kakiku, ia langsung menolah dan berkata, "Wah, datang juga kamu!".
Fiska pun menyuruhku masuk ke rumahnya. Ia menyuruhku duduk di sofa yang kemarin itu. Di depan sofa itu ada meja, diatas meja itu ada dua gelas minuman dingin segar yang sama dengan kemarin. Fiska itu pun menyuruhku meminumnya. Lalu aku pun membuka pembicaraan, "Oya ada apa mengundangku kemari?". "Hmm, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.....", jawab anak itu. "Apa?", kataku penasaran. "Sudah, kamu habiskan saja minuman itu dulu, baru kutunjukkan nanti. Ohya, sekarang sudah jam 12 siang, kita makan dulu yuk..! Bibi sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kita", kata Fiska. "Ah, aku tidak lapar kok...", kataku menolak. "Tidak mungkin kamu tidak lapar, ayo sudah, jangan malu-malu...", jawab Fiska itu lagi. "Ah, baiklah...", jawabku tak bisa menolak. Akhirnya kami makan siang bersama. Makanannya sangat enak..!

"Nah, kita sudah selesai makan, sekarang aku akan menunjukkan sesuatu yang kujanjikan tadi", kata Fiska. "Oke, baiklah..", kataku tidak sabar. Fiska lalu jalan dan membuka pintu depan, ia menyuruhku untuk mengikutinya. Aku ikuti dia. Ia kembali berjalan ke arah kanan halaman rumahnya. Disitu ada bangunan sebesar kamar di rumah Fiska itu. Fiska berlari, aku juga berlari agar tidak ketinggalan dia. Kami sudah sampai di ruangan itu. Fiska membuka ruangan itu, dan isinya ada alat-alat aneh. "Eh, benda itu seperti gitar kecilku..! Tetapi benda itu lebih besar, apa itu Fiska?", tanyaku cepat. "Hihihi... Itu adalah gitar akustik, gitar untukmu...!", jawab Fiska. "Apa? Gitar itu untukku? Harganya pasti mahal, aku tidak bisa membelinya darimu...", jawabku. "Hihi, bukan itu gratis. Itu untukmu.", jawabnya. "Tetapi, aku tidak bisa bermain gitar sebesar itu, aku hanya bisa memainkan gitar kecil, itu pun asal-asalan", jawabku lagi. "Hmm, tidak apa, karena nanti ada guru yang mengajarimu.", jawabnya lagi.

Bersambung....

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.