Assalamualaikum~ *gaya Fico*
Jawab lo kampret.
Jadi, gue lagi menjalani liburan. Iya, liburan. Kayaknya gue ngepost di blog ini pas liburan mulu. Semoga lu semua gak menganggap gue kerjanya liburan doang.
Ini ngomong-ngomong liburannya panjang banget ya.
Gua aja capek kalo liburan lama-lama. Bayangkan. Liburan aja capek, gimana gua sekolah? Haduh. Serba salah ya hidup gua.
Apalagi salahku~ Apalagi salahmu~
Ini Raisa dateng dari mana ya.
Karena gua gak tau mau ngomong apa lagi di postingan kali ini, gua akan menceritakan pengalaman gua. Udah cukup lama. Tapi yaa cukuplah untuk diceritakan(?). Oke ini dia.
Hari itu hari yang cerah. Burung-burung bernyanyi. Ayam-ayam memakan beras. Seorang pemuda berbadan tampan dan bermuka atletis (kebalik ya:?) bangun dari tidur. Dia merasakan semangat yang tidak ada pada hari-hari biasa. Dia terbangun dan berjalan ke kamar mandi. Alangkah terkejutnya dia ketika dia menemukan gayung! Iya, ada gayung! Biasanya juga ngambil aer pake tangan. Sekarang ada gayung saudara-saudara. Gayung.
Ada gayung.
Cukup ya, pendahuluannya. Capek. -_-
Jadi ya hari itu biasa-biasa aja. Gue lagi tidur-tiduran di ruang tengah sambil nunggu kartun minggu pagi. Eh, tiba-tiba nyokap dateng.
"Dek," kata nyokap.
"Apaan, Ma?" gue jawab.
"Nanti jam 11 ikut ke resepsi pernikahan yuk," ajak nyokap gua.
Oke, ini adalah pilihan yang sulit. Jika gua ikut, apa yang gua dapat? Ah, palingan cuma makanan. Tapi kalo makanan enak kan ya boleh juga. Gue tanya deh sama nyokap.
"Siapa yang nikah emang?"
"Anaknya temen bapak," jawab Nyokap.
"Temen bapak jabatannya apa?" gue tanya lagi.
"Direktur," nyokap bilang.
Aha! Kesempatan untuk gua. Setelah tau yang mau nikah adalah anak dari seorang direktur, jelas gue mau.
Gue memang penganut sistem tanya-jabatan-ketika-mau-ikut-ke-resepsi-orang-lain. Muahaha. Dunia memang kejam. Tapi gue melakukan itu bukannya tanpa alasan. Jadi teori gua adalah "Tingginya jabatan berbanding lurus dengan tingkat kenikmatan makanan dalam resepsi pernikahan tersebut." Jadi kalo jabatannya itu semacam Direktur atau Jenderal..bukan tak mungkin makanannya level atas semua.
Hal yang saya ceritakan di atas tidak untuk ditiru. Biar saya saja yang tersesat.
Singkat cerita, gue udah sampai di tempat pernikahan. Di gedung apa gitu. Daerah Bogor deh. Setelah gua sampai, gua (dan kakak gua, dia tentu saja tidak mau melewatkan hal seperti ini) nunggu dulu. Tunggu semuanya pada makan. Serakus-rakusnya gua, gua juga tau diri. Gua gak mau gitu ditangkep satpam acara. Jadi sambil nunggu, gua liat-liat aja mana stand yang kira-kira berpotensi untuk mengenyangkan perut manis gua. Kakak gua pun sama. Kami memang kompak dalam hal ini.
Ikutnya kakak gua dalam rencana ini bukan tanpa hasil. Pernah dalam resepsi-resepsi sebelumnya, kakak gua sangat berperan. Bak seorang pemimpin pasukan, dia menuntun gua, untuk mencari makanan. Berikut percakapan gua yang biasa dilakukan bersama kakak gua.
"Dek, gua ke sana, lu ke sana," kakak gua menunjuk arah yang dia maksud.
"Iye," gua jawab.
"Ingat, kalau sudah dapat makanan, segera kembali ke titik ini. Jangan sampai kehilangan arah. Buar review singkat tentang makanan tersebut," kakak gua mengingatkan.
"........Bego lo."
Kembali ke cerita.
Orang-orang udah pada makan. Jadi ya ini waktu gua untuk melakukan rencana.
"Kita jalan ke dua sisi berbeda seperti biasa," kakak gua memberi pengarahan.
"Beres," gue ngangkat jempol.
Bak mata-mata, gua jalan meliak-liuk dan bersembunyi di balik dinding jika ada bom. Setelah itu, gua melirik ke arah luar.
"Hm... Kayaknya gulai."
Jadi ya gua ambil aja tuh makanan. Gue rasain... anjrit. Enak amat. Kurang dari 3 menit makanan itu udah abis. Gua menaruh piring kotor di meja yang sudah disediakan di situ untuk menaruh piring kotor. Setelah itu, gua melangkah lagi ke stand berikutnya.
"Dimsum ya? Boleh deh," pikir gua.
Waktu gue antri mau ngambil tuh makanan... tiba-tiba ada suara yang mengarah ke gua. Suara yang sangat menohok. Ada yang bilang.
"Eh, salaman dulu. Jangan langsung makan. Buset deh lo."
Tidak. Gue dipermalukan di depan antrian ini. Dasar suara kampret, lo tau aja kalo gue belum salaman. Bukannya belum, tapi emang gak mau salaman. Kenal aja enggak.
Gua menoleh ke arah suara itu. Ternyata bukan gua yang ditegur. Sialan. Bikin kaget aja. Jadi ya karena posisi gua aman-aman aja, ya gua ambil tuh Dimsum. Pas gue makan.
Alamak. Enak abis.
Setelah 1 jam gua hilir-mudik di situ, gua pulang. Gua dan kakak gua pulang dengan perasaan gembira dan sukacita. Kayaknya gua udah bolak-balik ke 6 stand berbeda hari itu. Berbeda dengan gua, ortu gua enggak merasa begitu. Mereka gak begitu dapat banyak makanan. "Kelamaan ngantri," katanya. Yah, mau gimana lagi. Sudah kenyataannya begitu(?).
Gua gak makan lagi sampai akhir hari itu. Kenyang banget. Jadi ya gua langsung tidur aja.
Besoknya, gua kena batunya. Gua bolak-balik ke kamar mandi. Ada kali 8 kali gua bolak-balik ke sana. Sampe bosen deh gua liat kamar mandi. Kampret. Kebanyakan makan kemarin.
Jadi apa yang sudah gua tulis di atas, jangan ditiru. Tapi ya kalo mau niru gak apa-apa. Gua mendukung niat baik kalian. *sambil nangis*


