Liburan yang "Ohh" Sekali...

Hai. Oke gue tau. Udah lama blog ini gak gue urus. Hal ini didasari kepada gue yang terlalu aktif bermain di liburan ini. Walaupun gue main komputer mulu, tapi gue gak ngeblog. Gue sendiri heran. Kenapa gue bisa semales ini.

Gue sekarang sudah berada di akhir liburan. Yak. Bener-bener AKHIR karena ini hari Minggu. Besok gue udah mulai sekolah. Malesnya setengah mati.

Liburan kali ini biasa aja. Gak ada yang spesial. Paling spesial juga waktu gue nemu tissue di salah satu potongan hajat gue (ya, gue suka makan tissue). Oya, gue sempet ke Batam.

Gue ke Batam pada tanggal 24 Desember. Yak, sehari sebelum Natal. Gue udah sampe di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, entah kenapa disini gue dan keluarga gue nemu masalah. Masalah yang sempet bikin kami sekeluarga panik.

Ternyata eh ternyata, gue dan keluarga gue terlambat boarding. Mampus. Jadinya gimana gue juga gak tau. Pokoknya kata orang disono (gue gak tau namanya apaan) gue sekeluarga gue terlambat boarding.

Oh tidak.
Oh maygat.
Oh kambing.

Kami terlambat.

Emang sih, gue dan keluarga gue gak telat berangkat dari rumah. Tapi supir taksinya yang emang lelet banget. Gue kira dia tuh nenek moyangnya siput. Nyetir aja plonga-plongo gitu. Pengen gue tampar takut dia bawa clurit di balik celananya terus keluarga gue ditebas atu-atu.

Lanjut ke masalah tiket. Gue sekeluarga udah pasrah. Gue pengin ambil itu tiket, terus gue jadiin tissue buat boker di toilet bandara. Tapi, monyet pun tak sebodoh itu, gue pikir. Sampai ada suatu kata-kata dari orang sono yang bilang, "Pak, bapak bisa kami jadikan sebagai penumpang cadangan. Silakan tunggu sampai jam 09.25." Anjrot. Berarti gue masih bisa berangkat ke Batam!

Sekarang masalahnya adalah, gue harus ngapain pas nunggu sampai jam 09.25 itu. Pertama gue bengong sampe jam 7 (gue bisa bengong sampe 1 jam). Terus gue mondar-mandir sejam. Kaki gue patah. Sampe pas gue lagi ngurut-ngurut kaki gue di musholla, bokap gue nelepon. Katanya kita udah mau berangkat. Anjrit. Gue seneng setengah mati. Gue loncat-loncat di musholla, terus gue ciumin orang-orang yang lagi shalat Dhuha. Amboi. Batam, aku datang.

Sekitar 1 jam lebih perjalanan, gue nyampe di Batam. Gue sekeluarga dijemput sama supir yang jadi kenalan bokap gue. Bokap gue memerintahkan untuk membeli makanan. Makanan yang khas di Batam. Nyampe juga di restoran Sup Ikan yang cukup terkenal di daerah sini. Emang dasar untung, gue ketemu sama temen bokap gue dan istrinya disana. Dia ngasih tau tempat yang bagus di Batam buat wisatawan gitu. Terus menganjurkan agar kami pergi ke Singapura besok pagi. "Biar lebih puas jalan-jalannya," katanya.

Gak berapa lama pelayannya dateng juga. Dia bawa minuman sama sup. Dan supnya cuma 2. Padahal total orang yang ada di meja itu ada 6. "Yang ini sup ikan," kata dia. Gak berapa lama dia datang lagi sambil bawa 4 mangkuk sup. "Yang sup campur yang mana bang?" tanya gue. Gue emang mesen sup campur. "Yang satu sup ikan yang 3 campur semua!" kata dia pake nada marah. Anjrit. Gue nanya baik-baik eh malah dijawabnya kasar. "Bocah bego," gue bilang dengan mantap ke dia. Gue kira dia gak ngerti bahasa Jakarta. Eh gak taunya, dia noleh ke gue. Gue merinding.

"Lah, nasinya mana?" tanya temen bokap gue. "Hah? Na..Nasi?" kata pelayannya. "Ya iyalah nasi, masa makan gak pake nasi?" seru temen bokap gue. "Tadi gak minta," emang dasar pelayan geblek, udah salah masih aja menghindar. "Yaudah nasinya enam!" kata temen bokap gue. Udah mulai kesel sama tingkah itu pelayan.

Gue pun udah selesai makan. Hari udah mulai sore. Gue dan sekeluarga pun berangkat ke hotel. Dan tidur untuk besok, ke Singapura.

Besok Subuh, gue udah ada di pelabuhan yang jaraknya emang deket banget sama hotel gue. Pas naik ke kapal, rasanya biasa aja. Gue udah gak asing lagi karena gue juga udah pernah ke Singapura dulu. Pas udah mendekati daerah Singapura, gue ngerasa ada yang gak beres. Kapal berhenti. Ada beberapa orang yang masuk ke kapal pake baju hitam. Anjir. Serem juga. Gue kira dia semacam perompak Somalia gitu. Suka ngebunuh penumpang, terus menguliti penumpang dan kulitnya dipakai sebagai jaket. Serem abis. Gak taunya, gue gak diapa-apain sama dia. Gue gak dibius, ditembak, ataupun dijedotin ke tiang kapal.

Gue udah sampai di pelabuhan Singapura. Banyak yang ngantri buat memperlihatkan passport. Gue juga ikut ngantri. Sampai gue dipanggil dan gue memperlihatkan passport gue, petugasnya ngelihatin gue. "Hanif?" dia bilang. "Yes," kata gue mantap. Ngerasa bahwa nama gue keren. "How many days?" dia tanya lagi. "One day," gue jawab. Dia ngeliatin gue lagi. Mungkin muka di passport gue gak mirip sama sekarang. Terus dia nanya lagi. "How jiueyurplaosdhakusaljpowfw?" "Sorry?" gue gak nangkep. "How akusaljpowfwjahdayuoep?" dia bilang lagi. Gue pengin bilang, "gak jelas bego." takut ditangkep sama kepolisian di Singapura. Gue jawab aja, "I don't understand. Sorry." gue bilang pasrah. Dia bilang ke temennya. Terus ngeliatin muka gue. Gue boleh masuk. Yeah.

Disini gue udah jalan ke macam-macam tempat menaiki kereta bawah tanah. Merlion, Chinatown atau apa gue gak ngerti. Pokoknya gitu deh.

Sampai di daerah Merlion, gue ngelihat ada dua bule lagi foto-foto. Satu cowok yang agak tua, satu cewek yang masih muda. Gue punya beberapa asumsi:
1. Dia bapaknya cewek itu
2. Dia anaknya cowok itu (sama aja)
3. Dia istrinya cowok itu
4. Dia istri mudanya cowok itu

Dan yang paling tidak mungkin adalah nomor 3.

Gue masih sempet bikin asumsi lain yang ngaco kayak, "Dia hasil peranakan cowok itu dengan ketupat," atau yang lain. Sampai si cowok bilang ke kakak gue, "Can you take a picture?" "Sure," kakak gue menjawab. "Just click once, ok?" kata si bule sambil memperagakan cara mengambil gambar. Dia pikir kakak gue itu makhluk purba yang gak tau cara memfoto. Udah selesai moto, dia bilang "Thank you." "You're welcome," kata kakak gue sambil pergi. "Oh, and merry christmas," si bule melanjutkan. "Yeah, merry christmas," kata kami. Si bule itu mungkin gak liat kalau nyokap gue pake kerudung.

Gue sekarang di MRT. Gue kagum sama Singapura. Disini orang-orang tertib. Mereka naik kendaraan umum tiap hari seperti bis, atau MRT. Gue pikir, pantes aja mereka langsing.

Bagaimana dengan Indonesia? Macet, polusi, semua hal buruk ada disini. Tapi, kadang juga ada hal baiknya. Gue berpikir untuk tinggal di Singapura. Pasti enak pikir gue. Pemerintah disini tegas dan orang-orangnya juga tertib. Berbeda dengan Indonesia. Berbeda sekali.

Tapi, gue masih ingin di Indonesia. Gue pengin lihat Indonesia menjadi negara yang maju, seperti negara lain. Singapura saja yang luas negaranya lebih kecil dibandingkan kota Jakarta saja bisa? Kenapa Indonesia tidak?

Disini gue mau turun dari kapal. Dan ketika gue menginjak tanah Indonesia, gue harap semua impian itu, bisa terkabul.

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.