Hai. Gue tau lu semua kangen sama gue. Iya, jangan muntah gitu dong, uh.. Iya, oke.
Nah, sekarang gue akan menceritakan tentang kejadian di kelas gue yang agak kurang normal bagi orang-orang normal lainnya. Bayangkan, jika satu kelompok bocah ingusan memainkan drama. Bayangkan..
Hari itu, Selasa, gue sedang mempersiapkan tentang drama yang akan dimainkan kelompok gue. Dramanya itu Malin Kundang, tapi pakai bahasa Inggris. Bingung juga, Malin Kundang mana yang bisa bahasa Inggris. Setau gue Malin Kundang itu pake bahasa Padang-Melayu gitu.
Anggota kelompok gue adalah:
Gue, si tampan ini berperan sebagai narator. Berhubung kalo gue naik panggung aja udah dilemparin kaleng, gue akhirnya jadi narator.
Jonathan, berperan sebagai Malin Kundang. Berdasarkan postur muka yang lebih mirip batu Malin Kundang, dia terpilih sebagai pemeran utama.
Mayong, sebagai Ibunya Malin Kundang. Sebenarnya peran ini adalah peran yang paling sedikit peminatnya. Malahan gak ada. Cuma dia yang mau dipermalukan. Maafkan kami, Mayong. Hasta La Vista!
Alif, sebagai istrinya Malin Kundang. Kalo lo liat sendiri emang dia doang yang mirip buat jadi istrinya Malin Kundang.
Melki, sebagai kapten kapal. Karena mukanya emang mirip perompak, jadi biarlah dia jadi kapten kapal.
Alwan, sebagai petani. Sebenarnya peran ini emang gak ada di ceritanya, tapi gue bikin sendiri. Daripada gak dapat nilai..
Jadi, di harinya, hari Selasa, kita udah hafal scriptnya. Kita bawa properti. Kita udah siap. Tapi, gue baru inget: kita belum latihan. Jadilah sebelum maju, gue dan kelompok gue sempetin latihan di kelas sebelah.
Kayaknya gue emang gak berbakat jadi sutradara, dari awal latihan gak ada yang beres sama sekali. Contohnya pas adegan kapten kapal bertemu dengan Malin Kundang.
Kapten Kapal: Hey, what's your name, ha?
Malin Kundang: You don't know my name, hah?! My name is Malin Kundang!!!
Gue cuma bisa cengo.
Harusnya dia jawab, "My name is Malin, captain." Bukannya ngajak ribut begitu.
Gue juga bingung pas adegan Malin jalan sama istrinya. Gue bingung apakah mereka harus gandengan atau gimana. "Udah, jadi Jo sama Alif jalan sambil pelukan aja terus dia ciuman di depan!!" seru Alwan.
"Wan, kita mau pementasan drama Malin Kundang, bukan drama homo," gue bilang. Lagian yang bener aja gitu si Jo sama Alif jalan sambil pelukan. Yang ada gak bakal jalan dah tuh berdua. Terus, ciuman? Ciuman ama cewek aja gak pernah, apalagi sama cowok.
Kelompok gue termasuk kelompok yang kurang beres juga.
Udah jamnya, kelompok gue masih siap-siap di belakang. Semua make propertinya. Jonathan, pake sarung. Alif dan Alwan pake topi. Melki pake jas dan kacamata hitam. Mayong......dia make kerudung. Kata temen-temen gue sih pada mirip nenek gayung, tapi kalo kata gue malah lebih mirip sopir bajaj mencari jati diri.
"Today, we will tell you about Malin Kundang story with our version..." kata gue sambil gemeteran. Temen-temen gue tepuk tangan. Aneh juga, belum mulai cerita udah tepuk tangan aja. Gue ngerasa ganteng.
Adegan pertama, si Melki sama Jo seperti yang gue ceritain tadi, melakukan adegan dengan muka ingin berantem. Si Jo tambah ekstrim. Dia bilang, "You don't know my name? Uohh! I'm Malin Kundang!!" kata Jo sambil ngedorong si Melki. Anjrit. Kayaknya di tengah-tengah adegan mereka berantem beneran.
Semua berjalan lancar, sampai pada klimaksnya, ibu Malin mengutuk Malin. Mayong masih dengan logat Jawa-nya ngutuk si Jo. Jo terkapar. Akhir cerita. Malin dikutuk ibunya menjadi batu.
Semua tepuk tangan. Gurunya juga tepuk tangan. Semua main bagus. Kecuali gue, yang sesekali mencuri kesempatan ngupil di depan kelas.
Itu drama terakhir kelas kami. Sekaligus yang terbaik, kata guru itu. Gue dan kelompok gue ngerasa ganteng lagi. Dan kayaknya, gue juga menemukan filosofi dari drama itu.
Gue juga bukan orang yang mengerti tentang drama, tapi, hidup kita adalah drama. Kita memainkan suatu drama. Mulai dari drama kecil, sampai besar. Dari drama dalam sekolah, luar sekolah. Dan yang paling umum, drama tentang sepak bola atau tentang politik yang sedang banyak dibicarakan.
Semua drama. Ada siapapun dibalik topeng. Topeng yang bisa digunakan kapan saja, menurut tema yang terjadi di tempat itu.
Apapun kejadiannya, penonton hanya ingin melihat apa yang menarik menurut dia. Dan apapun kejadiannya, kita harus tetap hidup memainkan suatu drama.
The show must go on.


