"Mas hanif kayak homo," adik sepupu gue ngomong. Gue yang kaget sekaligus gondok menerima frontalan begitu langsung aja ngomong, "Iya mas Hanif homo, kok. MAS HANIF EMANG HOMO."
Tapi, gue heran. Kok bisa dia tau kata "homo" itu? Mungkin dia mengerti dari pergaulannya (pergaulan yang tidak baik mungkin) sehingga dia tau kata-kata tidak manusiawi itu. Tapi, pas gue tanya dia, "Emang homo itu apa?" Dia malah jawab dengan keras sambil mengepalkan tangannya diatas layaknya pejuang emansipasi.
"Homo itu artinya udah bisa punya pacar!"
Gue langsung niban adik sepupu gue dengan sekuat tenaga. Dasar anak kecil kurang gizi. Menurut dia homo itu, "udah bisa punya pacar". Tapi gue bersyukur bahwa dia gak mengerti arti homo yang sebenernya. Kalo dia tau arti yang sebenernya gue bisa diejek habis-habisan.
Tetapi, dia baru kelas 3 SD dan udah tau kata "homo" (walau tidak tau artinya). Dan gue semasa dia kecil, cuma tau kata "goblok" (kakak-beradik yang tidak baik, jangan ditiru). Siklus seperti itulah yang gue sebut perubahan.
Perubahan. Orang berubah, dunia berubah, semua berubah. Perubahan. Menurut gue, gue berubah: dari yang tadinya ganteng menjadi ganteng sekali. Tetapi menurut orang, gue berubah: dari yang tadinya dungu menjadi dungu sekali.
Mengenaskan.
Perubahan banyak terjadi. Contohnya adik sepupu gue itu. Dia baru aja kelas 3 SD udah dibeliin komputer dan bisa buka internet, dan lain-lain. Dan gue, pada masa itu, cuma bisa buka komputer buat corat-coret di Paint.
Perubahan juga terjadi dalam percintaan.
Contohnya, kita pasti mengenal cerita Romeo & Juliet. Kata orang-orang, cerita itu adalah cerita cinta yang paling romantis sepanjang sejarah. Gue sendiri gak ngerti tentang Romeo & Juliet. Nulis begini biar keren aja. Pas gue nanya ke temen gue, "Romeo & Juliet itu ceritanya yang si Juliet ketabrak mobilnya Romeo terus Romeo nolongin dia, ya?" Terus dia berkata dengan muka jijik ke gue, "Itu mah sinetron, bego!" Gue down.
Back to our topic.
Jadi, Romeo & Juliet itu adalah kisah romantis sepanjang sejarah. Kalau lebih kerennya, Romeo & Juliet itu seperti "cinta abadi". Tapi sekarang? Percintaan bukan murni cinta lagi. Mereka memandang hal yang menurut mereka 'baik' di posisi masing-masing.
Zaman dahulu juga, jika mereka putus cinta, mereka tidak mengungkapkannya dengan kata-kata. Mereka sedih, nangis, mogok makan, jahit mulut (ini putus cinta apa demo?). Kalau sekarang, putus cinta paling cuma bolak-balik ngetweet "galau".
Kemarin gue baru saja candle-light dinner sama keluarga gue. Bukan candle-light dinner yang sebenarnya, tapi makan di warung kaki lima yang kebetulan lagi mati lampu lalu diberi lilin sebagai penerang. Malam itu, gue berfikir seperti tadi. Orang berubah, dunia berubah, semua berubah. Kakak gue berubah menjadi semakin tinggi, semakin dewasa. Nyokap dan bokap menjadi semakin tua, tetapi semakin baik juga. Sedangkan gue?
Gue tidak berubah. Gue seolah berjalan di tempat, dan tidak maju sama sekali.
Dunia berubah? Jelas. Pada tahun 500 SM tidak ada komputer (jelas) tetapi sekarang? Komputer sudah menjadi kebutuhan utama setelah oksigen, makanan, dan cinta.
Orang berubah, dunia berubah, semua berubah. Gue tau gue udah mengucapkan kalimat itu 3 kali di post kali ini, tapi, gue tetap tidak dapat berubah.
Dan gue menemukan kuncinya: kita tidak harus berubah, tetapi menemukan hal yang tidak baik di diri kita, kemudian merubahnya menjadi satu hal yang baru.
Orang berubah, dunia berubah, semua berubah. Kalimat itu sudah gue ucapkan 4 kali, sekaligus terakhir, dan semoga.
Gue dapat merubah hal yang tidak baik di diri gue, kemudian merubahnya menjadi hal baru yang baik.


