Gue adalah seorang anak rumahan. Mungkin status gue kali ini mirip dengan kucing (kucing rumahan) tapi gue emang anak rumahan. Gue tidak pernah keluar dari rumah gue kecuali itu adalah hal yang sangat penting. Seperti bolpoin gue yang kadang meloncat keluar.
Rumah gue adalah teman terbaik gue. Walaupun rumah ini banyak kekurangannya, gue tetap suka dengan rumah ini. Dia memberikan kenyamanan bagi gue, dan gue pun memberikan kenyamanan bagi dia. Tetapi entah kenapa kalimat terakhir tadi seperti kalimat yang biasa diucapkan orang pacaran.
Di rumah gue, gue bertemu dengan 5 makhluk. Yang pertama bokap gue, kedua nyokap gue, ketiga kakak gue, keempat kucing gue, kelima cicak yang suka dimangsa kucing gue. Yak, kadang dia makan cicak.
Gue punya hal-hal menarik bersama kelima makhluk itu. Contohnya bokap gue.
Bokap gue adalah tipikal bokap yang tegas, dan kumisan (?). Bokap gue adalah orang baik sama gue dan kepada makhluk lainnya di rumah gue. Gue punya kisah bareng bokap gue.
Sore itu, adalah sore yang cerah. Gue dan bokap memutuskan untuk berenang. Semua perlengkapan udah dibawa. Gue pun berangkat. Di tengah jalan, gue bertemu dengan benda lonjong yang bertuliskan nomor-nomor. Bukan, itu bukan lontong yang dipahat, tapi sebuah alat-untuk-mengganti-gigi-pada-mobil. Berhubung nama itu terlalu panjang, kita singkat jadi persneling.
Gue liatin benda itu. Gue pegang. Gue tanya ke bokap, "Pak, ini lagi gigi berapa?"
"Gigi 3, dek," jawab bokap gue.
"Ini bisa dinaikin giginya?"
"Bisa dong, coba aja pindahin ke bawah, ke arah gigi 4," kata bokap.
Gue yang disuruh gitu cuma bengong. Karena masih belum ngerti apa-apa, gue ganti aja tuh langsung ke gigi 4. Dan ternyata...
Mobilnya mengeluarkan bunyi menderung keras.
Gue yang gak ngerti apa-apa cuma megangin tuh persneling, menaruhnya kembali ke angka 3. Tapi yang terjadi mobilnya makin menderung. Gue dan bokap mau jalan ke arah kiri. Tapi ada mobil yang lagi di kiri. Jadilah kita stuck di tempat itu, di mobil itu, dan di gigi itu. Mobil di belakang pada nge-klakson mobil gue. Dengan nada klakson seolah-olah bilang, "Woy! Maju dong, dongo!"
"P..Pak.. Gimana nih, Pak?" gue nanya sambil gemeteran. Panik banget.
Bokap gue diem. Gue gak tau apa yang dilakukannya saat itu. Dan tiba-tiba mobilnya jadi bener lagi.
"Tadi itu, kamu gak ngasih tau sih bakal mindahin giginya sekarang. Bapak jadi gak sempet nginjak kopling. Jadi gitu deh mobilnya." Jelas bokap gue.
"Terus, gak rusak kan, pak?" tanya gue panik.
Bokap ngeliat mata gue tajam seloah bakal bilang, "Woh iya, setannn!! Mobil begini lo rusakkin hah?! Mati lo, kupret!!!!" Tapi, gue tau bokap gue tidak sekejam bokap Gorilla. Dia lalu bilang, "...Enggak."
Fuh, gila. Gue lega banget pada waktu itu. Mobil gak rusak dan kita gak kenapa-kenapa. Gue menyesal pada waktu itu dan meminta maaf kepada bokap gue.
Kejadian itu udah lama berlalu. Hingga gue kembali berenang bersama bokap gue. Gue yang bosen, dengan iseng malah melakukan hal yang sama, mengganti gigi menjadi ke gigi 4.
Dan mobil-mobil di belakang gue pun kembali mengklakson.


