Teman Pulpen

Akhirnya gue kembali datang ke hadapan kalian. Oke, sebenarnya bukan gue yang di hadapan kalian, tapi cuma tulisan gue yang ada di hadapan kalian. Udah lama juga gak posting. Yaah gue juga sibuk sih. Banyak PR. Lu semua tau sama apa yang namanya PR kan? Yak, bener, Pekerjaan Rumah. Tapi Pekerjaan Rumah yang emang seharusnya dikerjain di rumah ini, malah gue kerjain di sekolah. Gue tau gue emang jenius.

Gue heran sama Pekerjaan Rumah gue. Mereka semakin hari semakin banyak aja. Gue curiga mereka berkembang biak diam-diam. Menghasilkan keturunan baru. PR yang lama kena HIV dan musnah.

Di hari-hari yang super sibuk itu, gue juga sempet sakit. Gue sakit layaknya penyakit yang sering diderita orang gaul: batuk, pilek, demam, flu burung. Hebat sekali sodara-sodara. Di saat gue sakit itu, temen-temen gue pada khawatir sama gue. Tapi gue curiga, mereka khawatir dengan maksud tertentu. Kayak, "Entar siapa yang bakal bisa gue jambakkin lagi? Siapa yang bisa gue tendangin lagi?" Oke, ekstrim sekali. Kebanyakan temen gue yang waras nanya ke gue gini, "Nip, lu gapapa yah? Mau gue pijetin? Atau gue bikinin teh? Rumahnya mau disapu sekalian (ini temen apa pembantu?)?" Sedangkan temen gue yang kurang waras bilang, "Nip, lu mau mati, yah?" Oke teman idiotku. Batuk ringan gini aja bisa bikin mati?

Ngomong-ngomong soal temen, gue adalah orang yang sangat suka berteman. Teman-teman gue juga banyak di kebun binatang. Mereka dikandangin. Oke bukan. Temen gue banyak karena gue sering pindah-pindah kota. Setiap kota gue punya temen tentunya. Gue juga punya sahabat pena. Karena sahabat pena itu terlalu formal dan susah disebutin, jadi gue bakal menyebutnya sebagai teman pulpen di cerita ini. Agar lebih indah dan lebih familiar.

Awal ketemu teman pulpen gue biasa aja. Gue liat nama dia di suatu majalah anak-anak terkenal. Kita samarkan menjadi majalah Bobo. Di majalah Bobo ini ada suatu rubrik dimana anak-anak dapat memberi kesan, pesan serta menawarkan diri agar menjadi teman pulpen-nya. Jadi, bertemulah kami, satu anak tampan    dengan satu lagi, anak kurang beruntung bernama (samaran) Coro.

Saat itu gue kelas 5 SD dan lagi berada di Medan. Sedangkan teman pulpen gue baru kelas 3 SD dan berada di Bandung. Gue memilih dia sebagai calon teman pulpen gue karena nama dia yang aslinya sangat bagus. Gak kayak yang gue samarkan sekarang sebagai Coro. Kayak sebutan kecoa.

Surat pertama gue ke dia sih biasa aja, intinya kayak gini deh.

"Hai Coro.. Aku Hanif, Aku tinggal di Medan. Boleh jadi teman pulpen gak? Hehehe.. (Gue juga ga tau kenapa gue ketawa gitu) Sekalian ajarin aku Bahasa Sunda, kan kamu tinggal di Bandung. Hehe." 


Oke, emang kelihatannya terlalu idiot gue nulis surat gitu. Kesannya kayak anak homo cengengesan. Terus begonya gue, nyokap gue juga adalah orang Sunda. Jadi sebenernya gue bisa belajar langsung dari dia dan gak perlu nulis surat begitu.

Gue menunggu jawaban dari Coro.

1 menit.

2 menit.

3 menit.

Gue nyadar kalo surat gue juga belom nyampe ke Bandung pada waktu 3 menit. Udah minta balasan aja gue.

Akhirnya setelah beberapa minggu surat yang ditunggu dateng. Pak Pos memberikannya kepada gue. Gue menerimanya dengan tampan. Gue mau buka surat itu. Karena gue adalah anak yang norak dan buka amplop aja belum pernah, gue jadi muter lagu Surat Cinta-nya Vina Panduwinata. Padahal itu cuma surat dari seorang anak yang belum pernah gue liat mukanya.

Gue mau buka surat.

Gue narik-narik ujung amplopnya.

Gak bisa. Ternyata di lem.

Gue tarik terus dengan kasar. Tetep gak bisa.

Gue emosi. Gue gunting amplopnya. Gak taunya suratnya kepotong sebagian juga. Gue nangis.

Gue baca suratnya. Inti suratnya kayak gini.

"Hai juga Hanif.. Mau jadi teman pulpenku? Boleh kok, hehe.. Kalo mau belajar Bahasa Sunda juga boleh kok.."


Ternyata gue dibolehin jadi teman pulpennya. Keren juga. Gue punya teman pulpen saat teman-teman gue gak punya. Gue ngerasa ganteng juga. Padahal waktu itu gue sangat culun. Rambut aja masih belah pinggir.

Gue menjalani kehidupan gue sebagai teman pulpen dengan si Coro. Dia ngirim surat, gue bales.. Dia ngirim surat lagi, gue bales lagi. Dia ngirim surat 50 kali sekaligus, gue bakar suratnya.

Dia juga punya kebiasaan yang sama dengan gue. Dia suka bola, gue suka bola. Dia suka kartun, gue suka kartun. Dia kalo cebok pake tangan kiri, gue juga. Tapi, percayalah, kawan. Jika kita mempunyai teman yang berbeda jenis dari kita, suka hal yang sama adalah hal yang membosankan. Jika kita mempunyai hal beda untuk disukai, kita akan merasa enjoy. Misalnya jika gue suka Manchester United, dan temen cewek gue suka klub bola lain kayak Chelsea, Real Madrid, AC Milan, itu akan membuat kita memahami perbedaan diri kita masing-masing, saling mengisi.

Sampai pada suatu saat, dimana dia meminta nomor telepon gue. "Biar gak terlalu susah ngirim surat," katanya. Gue juga bingung. Jadilah gue kasih nomor telepon ibu gue karena gue emang belum punya hape pada saat itu.

Jadilah gue dan dia surat-suratan lewat hape. Atau bahasa gaulnya SMS-an. Lama-lama gue juga bingung, gue dan Coro ini teman pulpen atau teman hape? Tiap hari kita SMS-an, kapan surat-menyuratnya, pikir gue.

Dia sering menceritakan tentang ibunya yang merupakan dokter. Dia bangga dengan ibunya. Gue menceritakan tentang ibu gue. "Dia bisa bikin aku kenyang tiap hari." Tulis gue ke dia.

Suatu hari, si Coro ngirim gue surat. Tumben, gue pikir. Di surat itu ada sebuah foto. Foto dia. Gue amatin, anaknya biasa aja. Karena dia baru kelas 3 SD, dan sudah pasti lebih muda dari gue, gue memahami mukanya yang masih kekanakan. Apa muka gue yang ketuaan, gue juga gak tau. Di surat itu dia juga bilang.

"Hai Hanif, nah itu fotoku. Aku tunggu foto kamu, ya!"


Dia bilang gitu. Dan itu artinya, mampuslah gue. Dengan muka yang lebih mudah diinjak dibanding aspal ini, gue bisa diejek abis-abisan dan gak mau lagi berteman hape dengan gue.

Tapi pada saat itu, gue tidak menanggapi surat itu. Gue menyimpan surat itu dan foto si Coro di laci gue. Gue lama-lama bosen dengan pertemanan hape yang kita jalani. Lama kelamaan, laci itu sudah lama tidak gue buka lagi.

Hari demi hari, gue tidak berkomunikasi dengan dia, gue sibuk dengan sekolah gue. Pada akhirnya, gue lagi duduk-duduk di teras rumah gue. Ada teriakan dari nyokap, "Eh, ini temen kamu nge-SMS. Baca dulu gih!" Penasaran, akhirnya gue baca. Dan isinya adalah..

"Hanif, kalau kamu gak kirim foto kamu secepatnya, pertemanan kita selesai aja ya. Udah 2 minggu aku tunggu balasan dari kamu. Dan gak ada. Aku tunggu foto kamu. SECEPATNYA."


Mampus.

Dobel mampus.

Gue juga baru inget gue masih menjalin pertemanan pulpen dengan si Coro. Gue langsung nyari foto terbaik di album foto gue. Gue kirim. Tanpa surat di foto tersebut. Dalam amplop tersebut, hanya ada satu foto.

Setelah melihat foto gue, dia jadi sering nyapa gue di SMS. Tapi kenapa ya, gue udah bosen beneran sama dia. Jadi setiap dia SMS gue, gue abaikan dan tidak gue balas lagi.

Entah kenapa gue menjadi orang yang menyepelekan pertemanan.

Gue dan si Coro resmi bubaran. Gue tidak pernah berkomunikasi dengan dia lagi. Begitu pun dengan dia. Gue hanya tau dia tinggal di Bandung dan bernama Coro. Tidak ada yang berubah.

Sudah beberapa tahun gue tidak berkomunikasi dengan dia, hingga sekarang. Gue sekarang di Jakarta dan gue tidak tau lagi dia berada di mana. Surat-surat dia sudah lama hilang. Sama dengan ingatan sepele gue dengan dia. Coro.

Tapi bagi teman pulpen dan merangkap sebagai teman hapeku, Coro.

Di manapun kau sekarang,

Semoga kamu bisa melihat tulisan ini dan ingat dengan pertemanan kita.

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Teman Pulpen

  1. coro itu cewe atau cowo gan?

    BalasHapus
  2. Sebenarnya dia adalah peranakan dari seorang laki-laki dan seorang wanita.

    BalasHapus

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.